Awalnya sekedar kumpul-kumpul bersama ketika malam-malam tertentu di bulan tertentu. Kemudian berlanjut dengan pertemuan-pertemuan “rahasia” di tempat yang tidak begitu rahasia. Dilengkapi dengan kode-kode jargon tertentu, interaksi yang berbeda mulai terasa. Sebuah kaukus asing dalam kelompok yang sudah begitu sangat spesifik terbentuk. Kaukus yang berisikan orang-orang tertentu yang dipilih berdasarkan kriteria-kriteria yang cukup berat. Keanggotaan yang diberikan berdasarkan undangan dari “para atasan”. Coba tanya mereka, ada apa sih? Wah, tentu saja, mereka akan berusaha menjelaskan dengan sebegitu masuk akalnya sehingga kamu merasa tidak ada yang salah dengan mereka.

Sudah bertanya memang? Saya sih belum, tapi tanpa bertanya pun saya sudah tahu jawabannya. Darimana saya tahu kalau belum pernah bertanya? Jawaban pastinya sih tentu saja tidak mungkin saya tahu, tapi saya tahu pasti bahwa dengan bertanya, saya akan merasa sangat kekurangan dan sangat buruk sehingga saya “terpaksa” ikut dengan mereka.

Mereka ini siapa sih? Hmm… Pertanyaan bagus. Saya juga masih bingung menggambarkannya. Kalau memang mereka berniat menjalankan tujuan mereka, kenapa musti rahasia? Setahu saya, rahasia itu terjadi jika ada sesuatu yang salah, keliru, atau tidak pantas diketahui orang banyak. Anehnya, pengalaman hidup saya membuat saya yakin bahwa ketiga atribut dari sebuah rahasia ini sama sekali bukanlah tujuan utama dari golongan mereka.

Saya coba ungkapkan logika saya. Anggap ada sebuah kelompok yang berusaha memasarkan “jualan” mereka kepada kelompok lain yang masih begitu bimbang dengan keputusan mereka. Logikanya, para “penjual” ini akan mengerahkan segala kemampuan mereka untuk menarik para “pembimbang” ini bergabung. Kalaupun ternyata ada beberapa dari pembimbang ini berhasil membeli jualan mereka, penjual yang cerdik harusnya tahu bahwa mereka tidak sepatutnya bangga atas keberhasilan mereka menggaet pembimbang ini. Mereka seharusnya sadar bahwa mereka masih gagal karena ada beberapa pembimbang yang tidak terpengaruh untuk membeli jualan mereka. Mungkin ada yang salah dengan strategi pemasaran mereka. Mungkin ada yang tidak cocok dengan sales representative mereka.

Yang terjadi adalah, para penjual ini tidak hanya memusatkan diri pada para pembimbang yang sukses digaet, tapi mereka juga melupakan secara total para pembimbang yang masih bimbang tadi. Saya merasakan begitu jauhnya jarak antar saya sebagai pembimbang dan mereka sebagai penjual. Saya tidak begitu mengerti secara pasti jalan pikir mereka, tapi mungkin mereka kira bahwa dengan jumlah pembimbang yang sudah berhasil mereka tarik, mereka yakin bahwa mereka sudah cukup laku.

Kalau benar seperti itu, saya hanya bisa berkata, “selamat puas dengan keberhasilan Anda semua”. Tentunya dengan nada sinis dan senyuman sarkastik. Mengapa? Karena saya sadar bahwa sebagai pembimbang yang dicampakkan dari target pemasaran, dengan segenap rasa percaya diri yang agak condong angkuh, saya bisa bilang bahwa saya mempunyai potensi yang lebih sebagai calon penjual. Heh, sayangnya, saya sudah tidak masuk daftar hitungan. Jadi, buat apa saya bersusah payah menawarkan diri?

Jika memang menjadi seorang anggota kelompok penjual adalah suatu hal yang sangat tabu dibicarakan, sampai-sampai keberadaannya masih tidak pernah sesekalipun dibicarakan secara umum, buat apa saya menjadi seorang pembimbang yang menunggu dengan setia “pinangan” sang penjual?

Saya punya cara pikir dan analisa yang saya rasa lebih dari cukup untuk menempatkan saya sebagai ahli strategis dalam suatu kelompok apapun. Entah itu penjual, produsen, atau malah kompetitor dari sang penjual tersebut. Minta bukti? Coba saja ingat-ingat, saat dimana hubungan saya sebagai pembimbang dan Anda sebagai penjual masih harmonis? Dengan sepenuh hati saya berada di garis depan dalam mendukung anggota Anda bertarung di ajang adu popularitas, karena saya tahu bahwa keberadaan seorang penjual sebagai pemenang dalam ajang tersebut merupakan suatu jaminan tak tertulis bahwa keberadaan Anda sebagai kaum penjual diakui dan diperhatikan. Apa yang terjadi seandainya saya tidak di situ? Kemenangan-kemenangan tersebut tetap akan terjadi, menurut beberapa orang. Jika betul begitu, so be it. Saya tidak akan lagi meluangkan sedikit usaha, tenaga atau pikiran saya untuk mendukung segala bentuk program yang dilakukan oleh para penjual tadi.

Akhirnya saya hanya bisa bilang. Buat mereka yang sudah terpilih menjadi anggota penjual, saya ucapkan selamat. Silakan kalian tunjukkan bahwa kalian memanglah pantas diistimewakan, kalian memanglah pantas untuk di’rahasia’kan, kalian memanglah pantas untuk meninggalkan para pembimbang seperti saya ini. Saya hanya akan kembali ke masa lalu saya dimana saya membatasi segala bentuk komitmen terhadap orang-orang yang mencibir, menjauhi atau membatasi pergaulannya dengan saya.