Apa yang lebih buruk dari idealisme yang dikomersilkan dan didalangi oleh sekelompok intelek selebriti (baca: oplosan) yang oportunis? Kalau ingin tahu apa yang saya maksud, coba cari klip video acara talkshow Newsdotcom, khususnya episode Sumpah Pemuda 2007 di Youtube.
Setelah menyimak acara yang berlangsung sekitar 80 menit ini, seorang rasional akan mendapati hal-hal berikut:
- Untuk mendapat kesempatan menjadi penonton talkshow langsung di studio, ternyata orang harus lolos audisi tarik suara dulu. Kalau tidak, darimana mereka bisa memiliki napas yang cukup panjang untuk mendengungkan suara “huu…” hampir setiap 5 menit sekali?
- Orang yang bernama Efendi Ghazali punya ego yang jauh lebih besar dari ego seorang diva sekaliber Whitney Houston. Kenapa begitu? Coba amati dan hitung, berapa kali beliau mengeluarkan pernyataan atau kesimpulan yang tidak diamini secara “sukarela” oleh para penonton yang hampir sebagian besar dicurigai pernah ikut summer camp Bina Vokalia itu? Atau berapa kali komentar dia tidak diiringi oleh riuh lirih tepukan tangan?
Sebagai konseptor dan pembawa acara Republik BBM, Efendi tahu benar bagaimana memilih penonton dan mengarahkan mereka di depan kamera.
- “Ion dan cairan tubuh” ternyata memegang peranan jauh lebih penting dalam kehidupan sehari-hari dari yang saya bayangkan. Bahkan, orang secuek Gus Pur pun sampai perlu mengeluarkan analogi yang menghubungkan pemuda dan “ion tubuh” tadi. Heh, sepertinya keluhan saya tentang global warming sebagai the most overused buzzword of the year perlu direvisi.
- Harapan bangsa Indonesia untuk bangkit sepertinya harus menunggu beberapa dekade lagi. Alasannya? Ternyata, the so-called “kaum pemuda masa kini” memiliki waktu luang yang begitu banyak sampai-sampai mereka sempat berkumpul beramai-ramai untuk mendeklarasikan “Sumpah Pemuda 2007” daripada mengerjakan hal lain yang lebih bermanfaat, mungkin seperti menyelesaikan kuliah, belajar untuk Ujian Akhir, mempersiapkan skripsi, atau yang paling dasar: lulus UAN (ya, saya lagi ngomongin kamu, anak SMA kelas 3!)
Secara pribadi, saya tidak begitu mengerti pemikiran dasar yang membawa mereka sampai kepada ide untuk mengadakan Sumpah Pemuda 2007. Mungkinkah Sumpah Pemuda 1928 dirasa kurang signifikan karena saat itu tidak ada stasiun televisi nasional yang memberikan kesempatan bagi mereka untuk tampil dan dikenal orang banyak?
Atau mungkin, dengan mengadakan Sumpah Pemuda itu, mereka lolos dari tanggung jawab untuk secara nyata berbakti pada komunitas mereka? Tentu masih ingat kan bahwa generasi 1928 disebut sebagai generasi perintis atau pelopor bagi Kemerdekaan 1945? Nah, mungkin itu alasan “pemuda-pemuda” ini bersumpah sekarang: mereka ingin dicatat sebagai generasi pelopor dan perintis di buku Sejarah Nasional dan Umum Kurikulum 2080. Heh, lagi-lagi motif aktualisasi diri. Sayangnya, itu berlaku dengan catatan kalau mereka masih hidup saat itu dan pelajaran Sejarah Nasional dan Umum masih diberikan di tingkat SD-SMA.
- Penyampaian humor satir tentang politik dan pemerintah ternyata kurang cukup untuk membuat “penonton yang cerdas” tertawa. Masih dibutuhkan humor-humor kelas rendah yang mengandalkan olok-olokan atas ras atau suku tertentu. Tidak setuju dengan pendapat saya yang ini? Kalau begitu, bisa jelaskan keberadaan sang penyanyi dengan aksen Sunda terpalsu yang pernah saya dengar? Kepiawaian dia memparodikan lagu-lagu pop sebagai sindiran politik memang membuat saya agak tersenyum. Tapi, sayang, senyum tadi cukup bertengger di sebelah kiri bibir saya. Masalahnya, mengapa harus dibawakan dengan aksen daerah? Apa tidak ada cara humor lain yang lebih elegan? Saya lebih bisa tertawa mendengar nyanyian bang Opa Irama, walaupun jumlah narasi yang dia bawakan hanya sedikit.
Pengamatan-pengamatan tadi, ehm tunggu dulu. Kok saya mulai terdengar seperti “kaum intelek” oplosan itu ya? Ah, peduli setan. Pengamatan-pengamatan saya tadi secara keseluruhan membuat saya malu sekaligus tertantang.
Malu, karena topik yang dibicarakan di episode ini adalah tentang partisipasi “kaum pemuda” di pembangunan, khususnya di bidang pemerintahan, sedangkan saya sendiri secara demografi ataupun de facto tergolong sebagai “kaum pemuda” itu. Tapi untungnya, secara ideologi, saya berseberangan jauh dengan mereka. Mereka menuntut keterlibatan kaum mereka dalam pemilu, badan legislasi, dan kalau bisa, jajaran kabinet dengan alasan, bahwa generasi tua terbukti gagal menjalani tugas mereka.
Andaikan mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku berbobot atau mendengarkan guru/dosen berbicara, tentu mereka tahu bahwa adalah suatu omong kosong luar biasa apabila seseorang diberi sebuah tanggung jawab bukan atas dasar meritokrasi. Menggunakan kata meritokrasi pun, saya jadi agak ragu. Jangan-jangan, para “pemuda” tadi tidak mampu membedakan meritokrasi dengan demokrasi, atau –krasi –krasi lainnya.
Masuk akal kan, kalau saya bilang saya malu untuk digolongkan sebagai “kaum pemuda” apabila definisi kaum ini hanya terbatas pada usia, bukan berdasarkan cara pikir atau kedewasaan bertindak.
Di luar sikap malu saya tadi, saya juga menjadi tertantang. Tertantang, karena berarti kesempatan saya (dan teman-teman lain yang mempunyai pikiran sejalan, atau setidaknya satu visi dengan saya) untuk membendakan sebuah utopia yang bernama “Perubahan” tadi masih tersedia dan terbuka lebar. Apa menariknya sebuah masalah jika kita sudah tahu bahwa ada orang yang berpotensi dan siap memecahkan masalah itu lebih awal daripada kita? Dengan melihat seberapa “menyedihkannya” para kaum intelek tadi, saya lebih tertantang untuk membuktikan bahwa semua observasi yang saya tulis saat ini itu benar.
Sampai saat pembuktian itu tiba, saya masih berniat untuk menyelesaikan kuliah saya, dan melanjutkan sampai ke tahap di mana saya merasa siap. Hm, semoga saja saya tidak menjadi seorang hipokrit yang gagal.



No comments yet
Comments feed for this article