Hibernasi. Hiatus. Istirahat. Terserah pilih mana yang tepat buat menggambarkan keadaan blogku tersayang ini selama dua bulan terakhir. Mungkin karena tak lagi praktek kerja seperti saat enam bulan lalu, dimana saat-saat “santai” tanpa beban masih menjadi menu sehari-hari. Atau mungkin begitu banyaknya tugas dan kuliah yang harus dinikmati, sehingga menulis blog sudah menjadi sebuah kemewahan yang hanya terjangkau oleh orang-orang yang “mampu”. Apapun itu, agaknya saya jadi rindu menulis sesuatu di sini.
Tapi, kok bingung yah, mau menulis apa?
Hmm… Sebenarnya banyak topik (baca: keluh kesah, masalah, dan beban penderitaan) yang ingin saya beberkan di sini, tapi bingung dimana harus memulai.
Aha, bagaimana kalau ditulis semua saja? Walaupun saya yakin ini bakal jadi sangat-sangat-sangat tidak komprehensif, seperti yang orang bilang tentang posting saya yang judulnya: Dia Menang, Dia Kalah, tapi lagi-lagi, ego diva di hati saya teriak: “So, what? Emang gw pikirin?”. Tapi tunggu! Masa saya kalah dengan pribadi alternatif “dodol” ini? Fokus fokus fokus. Oiya, saya jadi ingat suatu kejadian beberapa minggu lalu.
Ceritanya gini. Ada tugas kuliah. Open-ended. Tiap mahasiswa harus mengerjakan sendiri. Materi tugas agak membingungkan. Nilai tugas ini cukup berbobot bagi nilai akhir. Salah satu alternatif bantuan: referensi dari senior.
Ketika mengerjakan tugas ini, saya berusaha mengerjakan secara mandiri mungkin, tanpa cari referensi sana sini. Kalaupun butuh konsultasi dengan teman, itu sebatas tentang hal-hal trivial seperti: “Berapa halaman totalnya? Berapa data yang diambil?”
Sebelumnya, saya juga gak mau dituduh munafik. Ketika saya masih di tahun pertama, saya sering menggunakan “referensi” dari senior ketika mengerjakan tugas-tugas seperti laporan eksperimen. Tapi, beranjak tahun kedua dan ketiga, saya jadi agak “insyaf”. Berapa lama saya harus bergantung kepada referensi seperti ini? Siapa yang bakal menjamin bahwa referensi seperti ini akan selalu tersedia setiap saat saya membutuhkannya?
Kembali ke laptop. Setelah tugas saya hampir selesai 90%, salahsatu teman saya mengajak diskusi tentang tugas itu. Karena kebetulan saya menggunakan metode yang agak berbeda dalam mengerjakan tugas, saya sudah bilang bahwa saya gak berani tanggung jawab kalau cara yang saya pakai ternyata tidak sesuai dengan yang diinginkan. Dan diskusi pun berjalan.
Selang beberapa waktu setelah saya mengumpulkan tugas, saya diskusi dengan beberapa teman saya tentang tugas itu lagi. Kali ini, saya berani bicara tentang isi, karena saya sudah mengumpulkan. Tidak ada kesempatan untuk memperbaiki. Ketika diskusi mengarah ke perbedaan dalam metode mengerjakan tugas, saya agak terkejut. Teman saya yang tempo dulu sempat bertanya ke saya ternyata akhirnya menggunakan metode yang sama seperti metode saya. Dan bukan, saya terkejut bukan karena saya marah atau kaget karena dia pakai metode saya. Tiap mahasiswa diberi tugas dengan detail yang berbeda, jadi tidak mungkin dua orang bisa menyusun tugas yang mirip, walaupun metode yang dipakai sama.
Yang bikin saya terkejut, adalah ketika dia memberikan penjelasan tentang kenapa dia pakai metode itu kepada saya dan teman-teman lainnya, dia menjelaskannya sedemikian rupa sehingga terdengar seakan-akan dia memperoleh alasan itu mutlak dari pemikiran dia sendiri, tanpa bantuan siapapun. Sampai di sini, apakah cerita saya di atas membingungkan untuk diikuti? Kalau tidak, berarti tidak masalah. Tapi kalau iya, saya akan kasih contoh kasus yang berbeda namun dengan topik yang agak sama.
Suatu saat, ketika sekumpulan teman-teman yang semuanya kuliah di teknik sedang berdebat seru tentang prospek kerja masing-masing, salah satu teman yang sejurusan dengan saya berpendapat bahwa “sebagai lulusan teknik material, dia akan menikmati economic pie yang lebih besar daripada lulusan teknik lainnya, karena pie jatah teknik material hanya akan dibagi ke sekitar 200 orang per tahun, dibandingkan teknik lainnya, seperti teknik elektro yang jatah pie-nya akan dibagi ke sekitar 1000 orang per tahun“.
Waktu itu, saya yang sedang tidak mood berdebat, jadi agak tergugah. Alasan economic pie cukup menarik, tapi kurang masuk akal. Walaupun saya sejurusan dengan orang ini, tapi saya paling anti dengan yang namanya paham “gue bakal jadi terkenal, sukses, dan kaya karena gue sekolah/kuliah/kerja di tempat tertentu“. Sungguh ide yang sangat primitif! (Jadi, awas! Kalau sampai saya mendengar sedikit aja, ada orang yang membanggain asal sekolah/kuliahnya di depan saya, beuh, berani taruhan, saya bisa bikin mati kaku orang itu biar kapok!)
Kembali ke laptop. Begitu mendengar economic pie tadi, saya langsung bilang: “Gak bisa gtu donk! Memangnya ukuran pie yang dibagi ke teknik material dan teknik elektro sama? Lagipula, siapa bisa yakin kalau ukuran potongannya bakal adil?” Disusul dengan sepenggal uraian lebih lanjut tentang bagaimana economic pie itu disusun, dan sebagainya, dengan berbangga hati, saya bisa bilang bahwa orang tadi ini akhirnya melupakan argumen economic pienya untuk dijadikan salah satu “senjata” untuk membanggakan dirinya. Yes, berhasil!
Cerita tidak berakhir di sini. Selang beberapa bulan, atau semester kemudian, saya terlibat dalam sebuah diskusi yang lagi-lagi memperdebatkan masalah siapa dapat jatah paling besar, siapa bakal lulus dengan lebih sukses dan lain-lain. Tiba-tiba saja topik economic pie ini muncul, dan tanpa saya sadari, saya bergabung dalam pihak yang butuh argumen economic pie ini untuk bisa mematahkan argumen pihak lawan. Dan begitu “peluru” economic pie ini ditembakkan, hal yang saya benci terjadi.
Ternyata, dahulu ketika saya berdebat tentang economic pie untuk pertama kalinya, ada orang lain yang tidak terlibat, tapi tampaknya mendengarkan dengan seksama argumen anti-economic pie dari saya. Dan orang ini, yang saat ini bergabung dengan tim yang menganut paham “loe bakal sukses kalau loe kuliah di fakultas ini”, mengeluarkan argumen anti-economic pie yang sama persis dengan yang dulu pernah saya kemukan. Dengan resiko dijuluki “sombong”, saya berani taruhan kalau pengetahuan orang ini tentang ekonomi tidak sebegitu komprehensif seperti saya. Dan beraninya, dia bilang seperti itu!!
Menyimpulkan dua cerita di atas, berikut ini adalah kesamaannya:
- Saya mengungkapkan suatu pendapat, yang kurang lebih saya susun berdasarkan pengetahuan yang saya miliki. Saya tidak menyalin hasil pikiran siapapun.
- Pendapat ini saya pakai untuk membela keberadaan saya (untuk kasus 1, saya menggunakan metode yang berbeda dalam pengerjaan tugas, karena saya pikir, metode saya itu benar, walaupun tidak sesuai dengan metode-metode yang dipakai senior saya sebelumnya. Untuk kasus 2, saya mengeluarkan argumen anti-economic pie untuk “membikin mati kapok” teman saya yang sejurusan yang berniat untuk bertindak primordial)
- Pendapat saya ini kemudian digunakan balik oleh “lawan” saya, seakan-akan mereka sendiri yang menyusun pendapat itu. (Bahasa kasarnya: Mereka pake pendapat gw, padahal gw yakin banget, kalo mereka gak punya kompetensi yang mendukung untuk bisa menyusun pendapat macam gtu, tanpa sebelumnya mendengar dari gw)
Dari dua cerita yang panjang lebar ini, saya hanya ingin mengungkapkan bahwa betapa seseorang bisa mengklaim dia adalah “seniman di balik mahakarya Mona Lisa tepat di depan hidung Da Vinci”. Menjijikkan bukan sih?? Coba bayangkan kasus-kasus imajiner lainnya, seperti: “mengajarkan kepada Tarsan, Nunung atau alumni Srimulat lainnya tentang bagaimana komedi slapstick musti dibuat, atau berbicara di depan Christine Hakim bagaimana sebaiknya semangat Tjoet Njak Dhien dihadirkan di layar lebar“.
Pertama, sudah jelas orang itu mengkopi pendapat/hasil pikiran orang lain. Eh, ternyata tidak cukup di situ. Orang pertama yang dia ajak menjadi “saksi” bahwa dia adalah brain di balik pendapat/hasil pikiran itu adalah tidak lain pencipta aslinya.
Pffuuh … Dan ini baru posting pertama …



7 comments
Comments feed for this article
April 7, 2007 at 6:59 pm
Fajri Hanny
…..*speechless*
first of all…Tegar, makasih dah update…hehe..dah kangen sama post2 nya tegar…
Oh yaaa…aku setuju sama tegar… tapi aku sampe sekarang masih ga bisa kasih argumen2 kayak tegar gitu kalo ga setuju sama pendapat orang..sedihnya jadi orang yang rada2 tertindas…hiks…
tapi semangat ya Gar!
aku ganti alamat blog..hehe..ikut Tegar di wordpress…
April 10, 2007 at 3:16 am
Apret
Hidup Tegar!
Abis baca postingan Tegar selalu diakhiri dengan rasa seneng dan puas, karena apa? Karena kita satu visi dan misi (dan ga sedikit juga punya pengalaman sama, hahaha).
Satu lagi gar, orang Indo banyak banget punya kecenderungan kyk gini : sok tau, sotoy. Kalo kata orang “kalo manusia mulai ngomong, otaknya berhenti bekerja, kalo manusia diem, otaknya sedang bekerja”, jadi makin banyak ngomong makin ketauan kalo otaknya macet =S.
Banyak2 apdet Yah, hohoho
April 13, 2007 at 8:29 pm
yani
Wah..akhirnya ngupdate juga. ^_^ Sibuk banget ya?
Gar, seru juga lagi bisa jadi inspirasi buat orang lain. Serius!! Asal ga kehilangan hak cipta juga seh. Hehe..
April 16, 2007 at 12:19 pm
neverty a
Gw ikut ‘panas’ ngedengernya.
May 3, 2007 at 9:19 am
putu
tegar tegar,,,jarang update lagi nie ,,,,
hohoh,,,,masih exam ya?
semangaaattt!!!!!
May 4, 2007 at 2:56 pm
Rahmat Agung
Tegar!!
Aku setuju pendapatmu tentang hak cipta. Tapi, kalau kamu sendiri gak melindungi hak ciptamu, orang lain bisa nyuri dan kamu gak punya apa-apa untuk melawan pencuri itu.
Klo di industri bisa make patent, copyright, citation sebagai sarana perlindungan hak cipta. Maka mungkin kamu bisa mendokumentasikan segala pemikiranmu di blogmu ini, Gar. Kemudian ditambah dengan nambah license dari Creative Commons: http://en.wikipedia.org/wiki/Creative_Commons_licenses
May 7, 2007 at 2:09 pm
afin
halah si tegar…lama banget ilangnya mpe kangen gar…..btw
anu gar..anggap anjing menggonggong deh
dari pada bikin eneg
hehehe