Mengakui kalah, atau setidaknya belum menang. Mungkin itu salahsatu dari sekian banyak tindakan yang gw usahain sebisa mungkin gak akan pernah gw lakukan. Gak hanya di depan khalayak ramai, gw juga berusaha menghindari hal itu, bahkan di depan diri gw sendiri. Lagian, siapa sih yang mau, atau dengan rela, mengakui bahwa mereka itu ‘kalah‘?
Kalah itu biasanya timbul pada akhir suatu pertandingan atau perlombaan. Oya, ngomong-ngomong soal pertandingan dan perlombaan, ada yang tahu perbedaan di antara keduanya? Klo gak tahu, dan mau tahu (kedua syarat ini harus dipenuhi dulu, sebelum baca tulisan berikutnya), gw bakal ngasih kutipan dari apa yg gw pelajarin dari guru olahraga smp gw, seorang tokoh antagonis bertangan besi yang memegang kukuh peranannya sampe gw lulus. Kata dia, sewaktu ngasih pelajaran teori waktu kelas satu dulu, sebelum bagian ini dihapus dari kurikulum olahraga sampai gw kelas tiga, pertandingan melibatkan dua kubu (entah tim atau perorangan) yang saling berusaha mengungguli satu sama lain. Kedua kubu ini biasanya memiliki ‘markas’ yang berada dalam sisi berlawanan dalam pertandingan itu. Contoh: pertandingan sepakbola, pertandingan catur, pertandingan bulu tangkis.
Sedangkan perlombaan melibatkan lebih dari dua kubu yang berusaha mencapai akhir medan tempur dengan hasil yang paling unggul di antara kubu-kubu lainnya. Contohnya: perlombaan lari (tercepat adalah pemenang), perlombaan lompat tinggi (tertinggi adalah pemenang). Jadi, adalah salah menurut harafiah, setidaknya menurut harafiahnya Pak Guru, untuk mengatakan pertandingan renang atau perlombaan basket.
Kembali ke masalah kalah tadi. Kalau menyempatkan diri untuk memperhatikan percakapan-percakapan kecil yang terjadi sehari-hari, seseorang bisa mengenal kalau secara sadar, atau tidak, setiap orang cenderung tidak mau mengakui kekalahannya. Gw tadinya kurang mengamati hal-hal kecil kayak gini, tapi setelah beberapa tahun kuliah, gw menemukan kalau di lingkungan kuliah gw sekarang ini, ketidaksudian untuk mengakui kekalahan (bukan mengalah lho ya!), bahkan sekedar dalam percakapan, terlalu jelas untuk dihiraukan.
Ini salah satu situasi perdana yang sering gw temuin selama tahun pertama gw. Umumnya diambil dari seputar masalah akademik: Ketika membahas masalah DNA, gw agak (dan sampai sekarang masih) bingung kenapa DNA itu ada kata ‘asam‘ nya di namanya. Padahal, dari catatan kuliah dari dosen, diterangkan bahwa komponen utama penyusun DNA itu ada 3: basa nitrogen, fosfat, ama gula (semoga gw gak salah). Sejauh pengetahuan kimia yg gw punya (yang susah juga gw akuin bahwa gw ‘kalah’ di bidang ini), gula itu sifatnya netral, fosfat gak jelas, dan basa nitrogen ya, basa, sesuai namanya. Terus, darimana donk ‘asam’nya? Adalah kebiasaan gw untuk ngomong sendiri pas dosen lagi nerangin, klo gw ngerasa, ada yg gw gak ngerti atau bingung.
Kebiasaan gw juga untuk duduk di sekitar mahasiswa senegara yang pastinya bakal ngerti apa yg gw omongin karena gw nyeletuknya juga pake bahasa Indonesia. Sebelumnya, gw mau kasih perkenalan dulu tentang kesan yang gw alamin selama tahun pertama gw di NTU. Masa itu, menurut gw, adalah masa di mana seseorang musti membuktikan keberadaannya, dengan cara apapun. Label-label dan gelar sosial pun bertebaran secara khayal di jidat masing-masing dari kita, suka atau enggak.
Label yang diperebutkan agak berbeda dengan film-film Hollywood, dimana hampir setiap orang mengidamkan disebut cool, popular karena jabatannya sebagai jock atau cheerleader. Kami, selaku warga Asia, mengagungkan mereka yang punya intelektualitas tinggi, walaupun secara tidak sadar, kami pun tidak protes ketika wajah-wajah sempurna tapi ber-IQ dua digit beredar di layar kaca kami. Mungkin itu salah satu alasan, banyak protes datang dari kalangan so-called intelektual ketika mendengar kabar kalau banyak pemenang Olimpiade Sains Internasional yang susah kuliahnya, sementara acara-acara the-search-for-the-next-wannabes terus menjamur.
Salahsatu sumber pemberi label di kalangan mahasiswa Indonesia, adalah teman-teman se-alumni. Dia, yang di SMA-nya mungkin dikenal jago pelajaran Kimia, tentunya bakal jadi salahsatu kandidat konsultan Kimia terkenal sejagat di tahun pertama ini, walaupun belum tentu kemampuannya sejago teman lain, yang kapasitasnya sudah diakui komunitas yang lebih besar daripada komunitas satu SMA (baca: tingkat Internasional), namun kurang beruntung karena dia ‘hanyalah’ seorang pejuang tunggal dari sekolahnya.
Waktu pun yang hanya bisa jadi bukti seberapa tangguhkah seseorang untuk dirasa cocok dengan labelnya. Bagi mereka yang belum dapat label apapun, karena satu dan lain hal, salah satu cara adalah memperjuangkan labelnya sendiri. Contohnya bisa diambil dari cerita gw tadi.
Sebagaimana gw yang sedang berusaha mencari dan mendapatkan label untuk diri gw sendiri, temen-temen sefakultas yang bernasib sama kayak gw pun tentu bertindak begitu. Begitu mendengar gw nanya pertanyaan seputar DNA tadi, gw langsung nyesel karena dengan sengaja, gw ngasih kesempatan ke orang lain buat mendapatkan label sekaligus menghindari kekalahan dengan jawab pertanyaan gw (Petunjuk: mendapatkan label merujuk pada label jago Biologi yang akan diraih ketika bisa menjawab pertanyaan gw tadi; sedangkan menghindari kekalahan merujuk pada kenyataan bahwa gw akan ‘menang’ dalam perlombaan ‘berpikir secara filosofis untuk selanjutnya menanyakan hal-hal fundamental yang tak terpikirkan sebelumnya‘ jika gak ada yang bisa jawab pertanyaan gw tadi). Membunuh dua burung dengan satu batu.
Satu jawaban pun terlontar: “Kan gini. DNA kan ada fosfatnya. Tau kan, kalo fosfat itu bisa jadi asam klo bergabung dengan H+“. Gak mau ngakuin kalo gw kalah, gw pun balik nanya: “Lah, kan gak ada H+ nya?” Dan bodoh sekali gw untuk nanya hal itu, karena dengan enteng orang itu pun jawab: “Lho, di gula kan, banyak H-nya, jadi bisa aja berikatan dengan fosfat untuk jadi asam“. [Pause. Silakan tertawa sepuas hati kalau ternyata Anda mengerti betul tentang seluk beluk DNA]
Ada yang spesial dengan jawaban konyol gw tadi. Di tempat gw kuliah ini, ekspresi “Lah, kan … ?” atau “Lho, bukannya … ?” ini teramat sangat sering diucapkan (dengan nada yang cukup bikin eneg), sehingga tiapkali mendengar perkataan itu, pengen rasanya gw jawab balik dengan: “Bukan tuh, kayanya gw deh yang bener!” atau “Loe tau apa sih?“, walaupun gw ngaku kalo gw juga sering make kedua ungkapan tadi untuk menghindari ‘kekalahan-kekalahan’ lainnya. Kenapa gw make kedua ekspresi ini? Katakan saja, orang bisa berhasil menghindari kekalahan sekaligus menjatuhkan orang lain dengan cara yang implisit, menjengkelkan, namun tetap pada kaidah-kaidah moral yang dianjurkan.
Balik lagi ke cerita awal. Dilema pun menghampiri gw. Satu sisi, gw akan dinyatakan ‘kalah’ dalam pertandingan ‘menemukan misteri di balik ke-asaman DNA‘ kalo gw mengamini si pemberi jawaban tadi. Di sisi lain, gw juga akan kalah dalam pertandingan ‘Siapa yang masih punya akal sehat untuk gak bersikap sok tahu?‘ kalo gw balik nyerocos dengan jawaban sekenanya, yang tentu saja akan bernasib tanpa ujung kalo sang penjawab tadi masih gak mau kalah juga.
Gw pikir-pikir, dari keduanya ini, gw rasa lebih baik gw kalah di pertandingan pertama daripada kalah di pertandingan kedua. Dan gw pun diam untuk menyimak dosen gw yang udah gw acuhin selama sekitar 15 menit.
***
Itu hanyalah sekedar cuplikan contoh yg gw ambil dari masa tahun pertama gw. Banyak contoh lainnya yg sering bikin gw ketawa sendiri kalo mikirin, terutama di semester pertama tahun ketiga ini. Ada saat dimana gw gak ngerasa sama sekali butuh ‘bertanding’ atau ‘berlomba’, namun tak dinyana (duh, bahasanya!), gw udah di lapangan tempur. Acapkali (plis donk… ) gw cerita ke orang-orang di sekitar gw kalo secara akal sehat, kerjaan gw sewaktu magang sekarang ini gak begitu terjadwal secara teratur, dan gak membutuhkan tenaga berpikir dan bertindak yang amat sangat yang membuat gw sampai berpikir sewaktu pulang kerja, bahwa satu-satunya ciptaan manusia terhebat yang pernah ada adalah tempat tidur, di samping bantal dan guling.
Dan gw rasa, hampir semua orang yang dekat dengan gw tahu dengan hal ini. Tapi agaknya, gak semuanya tahu kalo fakta ini bukanlah sesuatu yg pengen gw jadiin sebagai ajang buat mengadu keunggulan. Tapi sayangnya, itulah yang terjadi ketika suatu waktu ada pembicaraan di antara kita-kita yang magang. Suatu kala, ada salah seorang mengeluh: “.. duh, capek ni” karena alasan yang benar-benar masuk akal. Orang yg lain, yg ketidaksudian untuk mengalahnya gw bilang paling tinggi di antara kami, ralat, di antara semua orang yg pernah gw kenal, menimpali: ” .. sama ni, tadi kerja bla bla bla, trus bla, bla, bla, dari jam bla, bla, bla .., mana tadi si ini gitu lagi, bla bla bla … “
Pastinya tau donk, kalo detail seperti ini sangat-sangat gak penting dalam pembicaraan dimana gak satupun dari kita tahu pasti detail tentang kerjaan orang lain. Tapi demi tidak mengakui kekalahan dalam perlombaan “Siapa Yang Kerja Paling Berat?” yang notabene, pemenangnya sudah ketahuan dari awal, si orang ini pun berbicara seperti itu.
Orang lain yang sedari tadi hanya diam pun sepertinya kena imbas aura ‘gakmaungakukalah‘ dari temennya, karena emang gak ada orang yang rela untuk dikalahin oleh pemilik toko Details-R-Us ini. Diapun membales, “yee… kamu kan cuma gini, sedangkan dia kan gtu …“. Menyadari hal yang tak mungkin disanggah lagi ini, pemilik toko pun mengajak gw ikutan ‘berlomba’ dengan bilang: “.. ya pokoknya gak ada yg senyante Tegar lah … ya gak Gar? Kerjaanmu nyante melulu kan?“.
Dan dilema pun balik ke gw, lagi-lagi gw pun lebih memilih menang di perlombaan “Siapa yang masih punya akal sehat dalam pertandingan melawan The Untouchable for Being Unreasonable” ini, karena gw yakin, semua orang bakalan memilih bertindak begitu.
***
Sebenernya, ada contoh lain dimana kali ini, gw berhasil untuk ‘tidak mengakui kekalahan‘ namun sebenernya kalah total di “siapa yang paling waras” ini. Tapi, masalahnya, kalo gw cerita, berarti gw bikin pengakuan donk, sementara udah gw sebut di atas, gw kan paling gak suka mengakui kalah. Jadi, untuk yang satu ini, beruntunglah mereka yang beruntung pernah ‘menang’ dari gw, karena mereka tentunya bisa berbagi cerita tentang kekalahan gw.



13 comments
Comments feed for this article
December 8, 2006 at 10:19 am
SaltoftheEarth
Gue baca ini jadi penasaran kenapa DNA ada “asam”-nya juga
. Emang jawaban yang bener apa sih Gar?
Btw kapan pulang Indo? Have a nice flight ya…Jangan lupa sate bandengnya
December 8, 2006 at 11:15 am
tegar
duh, jawabannya juga bukan bikin gw tambah paham, malah tambah bingung. katanya musti dites pake kertas lakmus gtu, dan keasamannya timbul dari gugus2 yang gw juga gak ngerti
December 11, 2006 at 12:56 am
Apret
Huhu iya gw juga sering berpikiran sama. Penting gitu yah tau urusan orang dr hal2 yg plg kecil trus dibandingin. Plis dunkz mind ur own business. huhu. Sabar yah, kalo Tegar aja yg super digituin, makhluk2 tak berdaya sperti aku ini diapain, huaaa T.T
Sejak disini gw juga ngerasa makin ‘kiasu’ maksudnya, kalo orang lebih baik, gw langsung stres knp yah gw lbh jelek. Kalo org cerita “gw A nya tigabelas loh” gw langsung tertohok karna g ada C aje dah untung. NTU oh NTU.
Btw gw malah bingung kalo DNA ada gulanya, manis dunkz yah rasanya. Makin banyak kandungan gulanya, makin manis pula orangnya, kyk gw gini. hoho (penjelasan dr org dg IQ 2 dijit T_T)
December 12, 2006 at 7:43 am
Damar
Haha… templatenya baru nih… keren, keren… lebih elegan euy…
*halah, g nyambung ama postinganya*
December 12, 2006 at 1:54 pm
tegar
>> Apret: sekelumit cerita tentang keganasannya hutan yang bernama “NTU”..
>> Damar:
)
December 13, 2006 at 2:16 pm
afin
baru nih gar?
halah dna aku paling benci deh klo ingat, jadi ingat mata kuliah virologi, igh
eh kok nyambung to?(sambil garuk kepala)
February 2, 2007 at 1:42 pm
putu
tegaaarrrr
kenafa ga update2?????
February 6, 2007 at 12:41 am
dina
weh…kalo DNA mah aslinya gula juga
deoksiribosa yang pake gugus 6 bukan yak?
udeh lupa.. T_T
cman kok kalo gula knapa dia asem?
yak karena ada gugus H nya =P g mutu…
at all..
kadang emang sie ngerasa jadi kucing kecil di hutan yang gede bgt
(soalnya suka kucing..daripada ikan?^^)
jadi g ada apa2nya..padahal si kucing bsa jadi raja kalo di rumah yang emang cuman sekuprit..
klo dibandingin g bakal ada nyambungnya T_T
cman sie dalam kehidupan sehari2 manusia haus pujian
padahal kadang dengan effort yang maunya minimalis..
ya wis..akirna ngiri2an..apalagi kalo kerja..weh…
susah kalo smua orang maunya keliatan berjasa =P
February 12, 2007 at 12:36 pm
Fanny
gar, kok entry yang paling baru ga bisa aku buka sih??? apa gara2 tag nya private?
February 22, 2007 at 8:32 pm
-BoeDz-
wah…..
pengen dunk…
dibikinin kyak gini….
heheheheh
February 28, 2007 at 10:37 am
Apret
Update dong gaaarrrrr X(
Tiap 3 kali sehari dibuka koq blun ada yg baru T_T
March 1, 2007 at 1:28 am
yoga
gileee tegar niat bangetttttt….. keren2. btw beli batik dari gw ya Gar =P
March 12, 2007 at 12:59 am
tita^_^
?????????????????
??????????????????
GAK NGERTI. nulis apa sih gar? inti dari tulisanmu ini apa sih? kepanjangan.
^^’