Bagi temen-temen mahasiswa, pasti udah denger tentang kabar masuknya UGM di jajaran 100 besar universitas di dunia dalam bidang seni dan humaniora, ilmu sosial, dan ilmu biomedicine menurut THES di sini. Prestasi ini bener-bener membanggakan, walaupun gw sendiri bukan anak UGM.
Namun bukan namanya hidup kalau bukan tanpa sengketa, begitu pula dengan berita di atas.
Baru-baru ini, gw dapet hasil forward email dari seorang teman yang kuliah di Universitas Indonesia. Sebelumnya, gw mau menegaskan klo gw gak ada perasaan anti ataupun alergi terhadap suatu organisasi/institut/sekolah apapun. Yang bikin gw alergi adalah beberapa kelompok orang yang tergabung di dalamnya.
Berita yang gw sebutin di atas makin memperkuat kealergian gw. Berikut ini isi dari berita yang dari judulnya aja udah bikin gw bersin-bersin: KLARIFIKASI TENTANG 100 KAMPUS TERBAIK (??)
Klarifikasi tentang 100 kampus terbaik
Rupanya tadi setelah saya kirim email tentang 100
kampus terbaik berdasarkan bidang ilmu, Rektor UI
langsung sms Rektor UGM dan minta klarifikasi
langsung ke TIMES. Memang benar berita media
Indonesia tadi siang, UGM memang masuk sebagai
satu – satunya kampus di Indonesia yang masuk 100
besar bidang ilmu kesehatan, ilmu sosial, dan
humaniora untuk versi times 2006.Hanya saja setelah diklarifikasi untuk Top World
Universitiesnya, peringkatnya adalah
UI di No. 250,
ITB No. 258,
UGM No. 270,
Undip No. 491, dan
Unair No. 526.Entah apakah ini versi times yang
terbaru. Karena yang versi Oktober 2006 saya dah
punya. Soal peringkat ini dari berapa besar, dan
apa kriteria wallahu alam bisshawab.Susah sih karena memang banyak versi. Yang saya
punya aja ada versi Jiao Tong, versi Newsweek,
versi Webometrics, dan versi Times. Saya tertarik
untuk melihat ini sebenarnya bukan untuk
membandingkan antara satu kampus dan kampus
lainnya. Tapi untuk melihat sebenarnya seperti apa
penilaian untuk melihat suatu kampus itu tergolong
bagus dan berstandar internasional. Ini kan untuk
kemajuan pendidikan kita juga. Dan saya dapat
banyak parameter untuk itu, mulai dari yang
sederhana seperti kuantitas riset yang dihasilkan
di kampus dan diterbitkan secara internasional
sampai berapa banya klulusannya yang pernah
dinominasikan Nobel (mimpi kali yee kalau di
Indonesia, paling gak untuk saat ini).Menurut saya pribadi tiap kampus punya kekhasan
tersendiri termasuk dari segi akademiknya dan itu
tidak salah, karena di Indonesia paling tidak tiap
kampus dihadapkan dengan kondisi daerah tempat
kampus itu berada yang mau tidak mau itu
mempengaruhi sistem pendidikan disana. Dan masing
- masing punya keunggulan pribadi. Mohon maaf
saja, menurut saya pada prinsipnya UI gak bisa
dibandingkan dengan ITB. Karena yang satu
universitas yang memiliki difersifikasi bidang
keilmuan lebih banyak (dilihat dari fakultas yang
ada) sementara yang satu adalah institut yang
secara prinsip mengarahkan mahasiswanya kepada
satu bidang keilmuan tertentu. Sudah pasti anti
akan terjadi benturan jika dilakukan penilaian,
entah secara keseluruhan ataukah melihat bidang
ilmu tertentu. Tapi isekali lagi semua universitas
sudah melakukan yang terbaik dan kita disini
bekerja bersama – sama dalam sinergitas positif
demi kualitas pendidikan Indonesia yang lebih baik.Saya yakin persaingan ini persaingan yang sehat.
Lagipula saya juga punya banyak teman di kampus
lain. Tiap kampus mestinya juga membuka diri dan
perluas jaringan dong untuk bisa saling
mengingatkan. He…he….no hard feeling, hope
it’s not narcist, cause I don’t mean it.MAAF LAHIR BATHIN BUAT SEMUA
- M. Rizki Ramadhani -
—————————————————————————————————————————-
- Siapakah beliau ini sebenarnya sehingga merasa pantas untuk menyusun sebuah “klarifikasi“? Udah sering banget gw denger di berita-berita, baik infotainmen (sampah) maupun berita yang agak serius, yang menggunakan kata klarifikasi ini. Dan dari setiap info tersebut, biasanya yang namanya klarifikasi itu diadakan ketika suatu pihak merasa ada pemberitaan tentang pihaknya yang kurang akurat ataupun salah. Klarifikasi ini biasa dilakukan jika pihak yang bersangkutan merasa kalau informasi yang beredar bisa mengarahkan publik pada suatu anggapan yang tidak benar atau keliru tentang pihaknya.
Mari kita simak tulisan di atas:
Pihak yang mengklarifikasi: M. Rizki Ramadhani
Berita yang ingin diklarifikasi: 100 kampus terbaik (tidak disebutkan untuk kategori apa, padahal jelas-jelas Times Higher Education Supplement mendaftar 100 terbaik di kategori sosial, seni dan humaniora, sains, biomedicine dan teknologi)
Ngerasa ada yang aneh? Yup betul! Daftar 100 besar itu dibuat oleh THES berdasarkan penilaian pribadi mereka (yang dipercaya independen). Adalah hak mereka untuk menempatkan siapapun di daftar mereka dan apapun urutannya. Jikalau memang terjadi sesuatu yang butuh di-”klarifikasi”, tentunya yang berhak melakukannya adalah mereka sendiri, bukan orang lain, termasuk Rizki tadi.
Atau mungkin Rizki merasa pemberitaan prestasi UGM tersebut tidak sepenuhnya benar, sehingga dia perlu meluruskan hal itu?? (Tidak sepenuhnya benar merujuk pada urutan UGM yang berada di bawah UI menurut top 250-526 yang beliau buat)
- Untuk bisa mengakses daftar lengkapnya, seseorang musti daftar dulu ke situs THES. Gratis! Gw sendiri udah daftar, dan setelah gw masuk ke halaman yang memuat daftar so-called top 100 (dan 200) tadi, kok gw gak menemukan daftar peringkat di atas 200 yah? Apa mungkin akses gw sangat terbatas lantaran gratis tadi? Kalo benar adanya, harusnya ada sedikit menu di halaman website mereka yang bertuliskan something like: “Top 500 University in The World which you can’t access for free!!”. Dan anehnya lagi, tulisan kayak gitu gak gw temuin.
Gw penasaran, darimana sang Rizki ini mendapatkan angka-angka 250, 258 dan nomor-nomor ajaib lainnya. Oh, mungkin saja dia tergabung ke dalam tim penilai tadi, atau dia gak sengaja nemu fotokopian lengkapnya di samping tong sampah di depan kantor editor THES?
Jikalau dia memang benar memiliki daftar peringkat menurut versi Jiao Tong, versi Newsweek,
versi Webometrics, dan versi Times, kenapa gak dia cantumin aja urutan berdasarkan versi-versi tersebut? Bukankah akan terasa lebih “ilmiah” dan gak hanya sekedar “departemen katanya” aja kalo misalnya dia mencantumin sumber-sumber yang lain?
Aneh.
Sungguh aneh.
- Di bagian tulisan di atas, dia bilang: “Menurut pendapat saya, …” Wohoo… ati-ati mas kalo make pendapat pribadi. Bisa-bisa jadi senjata makan tuan loh!! Dia bilang bahwa “agak sulit membandingkan UI ama ITB” berikut alasan-alasannya. Orang juga sulit ngebandingin apel ama jeruk, atau rambutan ama duku. Tapi kan kita gak lagi di Taman Buah Mekarsari!! Dari daftar yang gw lihat, penilaian top 200 besar itu berdasarkan kategori-kategori yang diusahakan bisa dinilai tanpa melihat jumlah jurusan dan variasi yang dimiliki oleh suatu universitas.
Mungkin Mas Rizki ini gak memperhatikan secara seksama daftar 200 besar tadi. Klo memperhatikan, bisa dilihat bahwa yang duduk di daftar itu gak hanya universitas umum setipe UI atau UGM aja. London school of Economics [peringkat 17], School of Oriental and African Studies [peringkat 70], institut teknologi [peringkat 4, 7 dll], malah ada politeknik [peringkat 64].
Pastinya para juri-juri tadi (sepertinya) sudah mempertimbangkan dengan matang kriteria-kriteria penilaian agar gak ada pihak yang dirugikan. Jadi, pendapat pribadi Mas Rizki yang dimasukkan ke dalam Klarifikasinya menurut gw sih bener-bener kekanak-kanakan!
- Yang ini pendapat gw yang mungkin didasari naluri semata. Sepertinya Mas Rizki kebakaran jenggot mendengar prestasi mendunia UGM sehingga dia mengorek-ngorek dokumennya yang akhirnya menemukan file berisi daftar fantastis universitas-universitas tadi berikut angka-angka ajaibnya.
Kalau memang daftar itu benar dan relevan (maksudnya bukan berasal dari jaman Belanda), maka tulisan Mas Rizki sangat spektakuler. Nama UI, ITB bisa terangkat karena ternyata peringkat overall mereka di atas peringkat UGM. Tapi kalau yang terjadi adalah sebaliknya (dimana daftar tersebut hanya eksis di alam pikiran tersembunyi Mas Rizki atau dibuat sebelum Suharto turun), maka bukankah itu malah bikin malu nama almamater? Kesannya yo, gak nerimo nemen karo prestasi temene dhewe (Terjemahan: gak nerima prestasi temen banget).
Mbok ya leghowo!! Udah deh cepeten keluar dari jajaran pegawai Departemen Katanya. Pak Harmoko aja kalah. Setidaknya sebelum mulai, beliau pasti memberikan referensi sumber berita yang dia sampein. Masing inget donk sama bapak yang satu ini: “Menurut petunjuk Bapak Presiden, … … … “
- Di bagian akhir, beliau minta maaf apabila dibilang narsis (because “I don’t mean it“). Well, gw bilang sih dia gak perlu minta maap karna takut dibilang narsis karena gw pikir gak ada yang akan berpikiran seperti itu. Harusnya maaf dia diperuntukkan untuk hal yang lain, mungkin kurang lebih seperti: “No hard feeling, hope I don’t sound too childish, emotionally unstable, and practically ridiculous. It’s not because I don’t mean it, but it’s because either I’m on my medication or it’s just my nature to talk rubbish without giving any actual logical scientific proofs and references, like exactly what I just did“



15 comments
Comments feed for this article
November 6, 2006 at 2:41 pm
afin
waduh kayaknya mantan kampusku memang harus berjuang untuk ikut standar internasional, meski sama2 negri tapi kalah tua dalam banyak hal termasuk fasilitas n kualitas mahasiswa n dosennya
hehehhehe
November 26, 2006 at 1:12 pm
Wahyu E. Abdillah
Ada sesuatu yang mesti kita pikirkan. Jika dilihat dari rangking nilai rata-rata nasional SPMB maka urutannya adalah: 1.ITB 2.UI 3.ITS 4.UGM 5.Unair, dst (Jawa Pos,2004). Dan urutan ini relatif tetap dari tahun ke tahun.
Tetapi dalam peringkat dunia (terlepas dari benar tidaknya urutan versi manapun) peringkatnya adalah: 1.ITB 2.UI 3.UGM 4.UNDIP
Ada yang ingin berkomentar?
November 26, 2006 at 10:19 pm
tegar
Err.. mau ngasih pendapat aja. Nilai rata2 nasional SPMB itu definisinya gimana? Setau gw sih, urutan itu mencerminkan sbrapa “elit” sebuah PT menurut anak2 SMA. Bener ato engganya, yah ga tau.
Bedanya ama kriteria penilaian dunia itu (lagi2 setau gw) adalah peringkat SPMB itu diambil pas mahasiswanya belum masuk kuliah (hanya dari tes masuknya aja). Sedangkan urutan yg menurut THES itu diambil dari performance masing2 PT, dari jumlah paper yg diterbitin, citation, dll (kriteria lengkapnya bisa dilihat di situs resmi THES)
December 2, 2006 at 3:38 pm
Arnold!!!!!!
Aq salut sama pemikiran anak muda zaman sekarang.Dah pada kritis…!!! Emang sih agak melenceng dari pernyataan kalian semua…!!!!Klo aq sekarang masih kuliah di UGM. Berdasarkan pengamatan dan pengalamanku selama kuliah di UGM. Aq bisa ngeliat kok klo Anak muda zaman sekarang (memang sih tidak secara keseluruhan tapi pada umumnya hanya berani bicara tanpa ACT.Hal ini terbukti dari hal2 kecil seperti:
1. Siapa sih yang ketika selama masa kuliahnya g pernah nitip absen.
2. Siapa sih yang selama masa kuliahnya selalu fokus mendengarkan dosen ketika dosen sedang berbicara di depan forum atau perkuliahan.
3. Siapa sih yang selama kuliahnya ketika dosen sedang mengajak untuk diskusi interaktif selalu mengajukan pertanyaan atau argumentasi..!!!!
dan masih banyak lagi hal2 lainnya…!!!!
4.Siapa sih yang ketika dosen sedang berbicara di depan forum, mahasiswanya tidak berbicara dengan teman sebangkunya selain topik yang sedang dibahas di depan forum.
5. Kalo mahasiswa Indonesia mampu seperti itu maka dia kelak akan mampu untuk bersaing era globalisasi.
“Setialah pada perkara-perkara kecil maka kamu akan mampu perkara yag besar….!!!!”
“Perkecillah yang besar dan hilangkanlah yang kecil”
Semangat mahasiswa Indonesia…!!!!
Jangan cuma jadi suruhan namun kelak mampu menjadi Pemimpin. ”
Orang yang bijak akan mendengarkan pernyataan ini namun “Orang yang keras hatinya hanya akan mempermasalahkan hal ini tanpa ada ujungnya”
December 5, 2006 at 10:04 pm
HENDRA
lihat keadaan itu harusnya kita juga berusaha keras untuk menjadi yang terbaik! terlepas institusi pendidikan kita punya nama atau tidak di tingkat nasional or internasional. OK-lah kita ikut bangga UGM dapat “nomor”, tapi yang paling penting adalah bagaimana agar tidak hanya sekolahnya yang dapat pengakuan melainkan juga lulusannya, harus berkualitas. yuk sama-sama tingkatkan kualitas pendidikan kita dan tentu juga bangsa kita. OK!
January 29, 2007 at 11:32 am
ANDI_TEKNIK MESIN UGM_YANG BIASA2 AJA
waduh…klo presidennya ITB,WAPRES UI,KETUA MPR UGM(diurut berdasarkan peringkatisme mas wahyu) negaranya bisa bubar!!!!kalo masing2 mengklaim sebagai yang terbaik. klo ngebahas siapa terbaik gak akan ada habisnya. slalu aja ada argumen subjektif yang pastinya ngedukung univ nya.
buat mas wahyu, sak indonesia raya gak ada yang tau pasti “pengurutan” peringkat SPMB berdasarkan apa.jadi rasanya lucu kalo itu yang dijadiin acuan. dan ada benernya juga mas rizki bahwa gak adil kalo ngebandingin institut ama universitas. oiya, kalian ud tau belom kalo ITS itu juara KRI (kontes robot indonesia) lebih dari sepuluh kali BERTURUT-TURUT.artinya, dari awal penyelenggaraan sampai sekarang yang namanya ITB,UI,UGM,UNDIP,UNAIR,dst(diurut berdasarkan peringkatisme mas wahyu) masih kalah bersaing.dan juga ada yang tau juara PIMNAS 2005?IPB.jadi,ada dua kesimpulan:
1. UGM masuk 100 besar dunia dan seharusnya KITA SEMUA ikut bangga
2. jangan besar kepala klo udah ‘berhasil” masuk ITB,UI,UGM(diurut berdasarkan peringkatisme mas wahyu) karena univ lain juga berkembang
TQ B4 ^_^
March 2, 2007 at 12:34 am
Ai
Mas Andy,Hendra, Arnold, sampeyan leres mas (anda benar ). Siapapun kita dan dimanapun kita kuliah relatif sama saja. Kita boleh bangga kalau kita bener-bener udah berkontribusi langsung pada kemajuan universitas kita. Mungkin mas wahyu bisa nulis seperti itu karena mas wahyu nilai spmbnya dulu tertinggi se Indonesia dan masuk ITB ( barangkali ?). Saya salut sama anak PENS(Politeknik Elektronika Negeri Surabaya)-bukan ITS ya mas- yang mampu berprestasi namun tidak besar omongan (ini gw juga bukan anak PENS lho-Gw anx FTUI).O Ya, buat mas-mas yang agak suka bangga-banggain prestasi temen sekampusnya(numpang nama doang), mulai sekarang cobalah ukir sendiri prestasi yang meskipun kecil pasti akan berarti(termasuk catatan buat saya). Anda jangan cuma numpang nama besar institusi tapi anda sendiri nihil. Semoga///
June 2, 2007 at 1:46 pm
wekkk
terlalu sering di peringkat 1 and 2 delalah turun jadi kebakaran jenggot…and bingung delalah yang disalahin sesuatu yang berhasil berprestasi di atas dia… apa itu yang dibilang terbaik??????
seharusnya sich mulai berkaca diri mungkin diri kamu2 itu terlalu angkuh untuk menghargai prestasi orang lain…..
June 2, 2007 at 1:48 pm
wekkk
Tolong di baca kategorisasinya wahai orang2 yang merasa di urutan 1 dan 2 dan cobalah untuk legowo dan mengoreksi diri sendiri…
June 2, 2007 at 1:51 pm
wekkk
i love this words…..
please remind this..specially untuk mas yang selalu ada diatas itu “lho”
“No hard feeling, hope I don’t sound too childish, emotionally unstable, and practically ridiculous. It’s not because I don’t mean it, but it’s because either I’m on my medication or it’s just my nature to talk rubbish without giving any actual logical scientific proofs and references, like exactly what I just did“
June 20, 2007 at 7:29 pm
razi
aq salah satu mahasisawa Teknik Sipil UNDIP, aq setuju ama apa yang dimaksud oleh tegar. sedikit klarifikai, memang minat peserta SMPB terhadap UNDIP minim dibandingkan UI, ITB, UGM, ITS, UNAIR dan UNPAD. Tapi untuk urusan reputasi didunia “mengutip survey Times Higher Education” UNDIP berada di atas ITS, UNAIR, UNPAD dan PTN lain di Indonesia.. lo mengapa??? koq UNDIP bisa kayak gitu??? bukankah yang banyak diminati itu yang akan selalu menjadi yang terbaik!! ini yang patut diperbincangkan, sedikit gambaran ttg UNDIP :
biaya kul di UNDIP dibandingkan dengan PTN terkemuka lainnya di Indonesia termasuk yg plng murah, dan kebanyakan yang kul di UNDIP adalah mereka yang berekonomi dibawah rata-rata. mw ga mau mahasiswa UNDIP tentunya harus belajar dengan sungguh2 ( seperti UGM era 70-80an ).. kita bisa membedakan sendiri antara si anak orang kaya dgn si anak orang miskin berkuliah !! khusus bagi jurusan q T.Sipil, kami di sini ditempa habis-habisan. jadwal assistensi tak kenal siang malam. Dan apabila tugas yang dibebankan tidak sesuai dengan kehendak dosen maka ujung2nya dia tidak diperbolehkan ikut ujian dan pemandangan itu bukan hal yang luar biasa, walhasil banyak mahasiswa mendapatkan IP rendah ( yang penting pure ). Mungkin itu yang membuat UNDIP pantas berada pada posisi 495 dunia ( diatas UNAIR, ITS, ITB, dan UNPAD ).
June 26, 2007 at 9:23 pm
Putut Purwandono
Perkenalkan, saya Putut dari FE UGM. Kadang bangga juga jadi anak UGM, atau melihat kawan-kawan sedaerah di kuliah di UI, atau ITB. Yang nggak bikin bangga kenapa ya mahasiswa sekarang rasa cinta kepada negerinya kurang? pengabdian sosialnya rendah. Pengennya ke Jakarta teruss habis lulus kalo nggak ke luar negeri. Jarang ada yang bilang, “Setelah lulus aku pengen kembali ke daerah, membangun daerahku, yang masih jadi bagian NKRI”. Aku bersyukur di UGM masih ada KKN, sebuah wahana untuk dapat mendekatkan diri dengan masyarakat, ke desa-desa, melihat realita rakyat kecil dan (semoga) tergugah untuk membantu atau paling tidak peduli dengan mereka. Terima kasihku untuk almarhum Prof. Koesnadi Hardjasoemantri (mantan rektor UGM) atas ide KKN-nya. Paling nggak dari kegiatan2 (pengabdian kepada masyarakat) kaya gitu kita bisa mengukur seberapa bergunanya kita untuk orang lain, yaaah walaupun mungkin minimal hanya 2 bulan.
Soal peringkat TIMES? Jadikan itu sebagai cermin, tepatnya salah satu cermin dari pendidikan di Indonesia, don’t take it for granted. Kalo boleh jujur, yang aku lirik malah ranking universitas2 di Malaysia/Thailand. Tahun 1970an mereka masih kuliah di NKRI lho?!!! Mau ITB kek, UI kek, Uncen kek, ga peduli, yang penting kita harus konsisten sebagai mahasiswa. Mahasiswa kok senenge do padu, sinau sing bener, dadi wong sugih jujur lan amanah, wong mlarate dho direwangi, dididik, diajarai piye carane bisa urip kang mulya dunia akhirat + nasionalisme yang tinggi. Eh, aku baru aja kuliah Perekonomian Indonesia dengan Bu Endang Sih Prapti, dia cerita bahwa Bill Clinton menyebut dirinya sebagai chauvinist nationalist. Bentar lagi 17 Agustusan men, walu udah jarang upacara tolong kalian nyanyikan atau paling nggak muter lagu Indonesia Raya di kamar kos. Salam persahabatan untuk seluruh mahasiswa Indonesia, dan akhir kata hidup mahasiswa, hidup Indonesia !!!
July 31, 2007 at 8:10 pm
gpnk
maaf mas, aku gak ngerti carane ngurutne peringkate unifersitas. tapi menurutku apik opo orane unifersitas itu ditentukan oleh kualitas lulusannya dalanm interaksinya dalam masarakat dan dalam dunia kerja.gak peduli fasilitas unifersiats mendukung opo ora!
October 14, 2007 at 11:40 am
namaewadina
komennya adhominem gini gar
jadi nyampe nasionalisme dan chauvinis kampus masing2.
aq pikir artikel ini supposed to clarify the ’so-called-clarification’ yang dibikin sama pihak yang tidak berwenang. am i getting it wrong?
October 14, 2007 at 11:44 am
namaewadina
eniwe, untuk teknik perangkingan universitas sudah dibahas di blog sebelah
lengkapnya baca http://www.romisatriawahono.net
banyak universitas indo yang bsa dibilang lumayan bagus. sayangnya jebloknya nilai dalam rangking internasional bsa diatribusikan ke beberapa faktor critical penilaian yang diabaikan di indo. misalnya field research yang jelas tertainggal dibanding asian atau bahkan world counterpartsnya.
bukan cman dipandang dari kualitas alumni